Terlalu sakit bagi saya untuk menjawab ucapan salamnya tadi ketika saya sedang berangan-angan untuk melarikan diri dari sini dengan menyiapkan sejumlah alasan antara lain:
1. Karena Allah
Saya berjanji kepada diri sendiri setelah saya berhasil escape dari sini saya akan mengabdikan hidup dan mati saya hanya untuk Allah saja, menjalani keseharian saya sebagai salik, belajar toriqoh dan mendalami tasawuf.
2. Ingin hidup bahagia
Ketika masih tinggal bareng ibu kandung saya pernah memiliki kesampatan untuk escape dari sana tapi saya tidak tega karena ‘kompas moral’ dan rasa tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah meski dia memiliki gangguan jiwa dan saya sering menjadi pelampiasan amarahnya, saya mencoba bertahan disana tanpa melayangkan 1 pukulan pun ke wajahnya, semua saya lakukan karena melihat Allah.
Tapi saya menyesal atas minimnya ilmu agama yang saya miliki, dalam agama yang saya anut diperbolehkan bagi kita untuk hijrah meninggalkan keluarga yang toxic demi kesehatan mental. Oleh sebab itu jika saya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari sini, maka kesempatan itu tidak akan pernah untuk saya sia-siakan.
3. Tidak punya teman ngobrol
Coba lihat lagi kebelakang, ada berapa orang yang bisa/mau untuk saya ajak ngobrol? Sebelum ataupun sesudah saya pindah kesini, (Termasuk istri saya) Mereka seperti jengah dan tidak nyaman untuk ngobrol dengan saya, meskipun ada maka jumlahnya masih bisa dihitung oleh 5 jari tangan.
Kemarin saya bertanya sebuah pertanyaan sederhana kepada istri “Jika
punya uang Rp.4000 bisa dibelikan baso berapa banyak ya kira-kira !?” lalu dia
jawab dengan nada ketus sambil marah-marah. Itu hanya contoh kecil dari
keseharian saya yang notabene sudah tidak punya tempat bertanya lagi kepada
manusia meski untuk menanyakan hal-hal yang sepele. Untung ada AI,
Alhamdullilah!
4. Tidak punya kehidupan
Mati masih mending tapi menjalani hidup tanpa kehidupan apa artinya, setiap hari saya habiskan untuk duduk diam di dalam ruangan kecil tanpa mengerjakan apa-apa. Turun hanya untuk makan dan menuju ke toilet.
5. Keluar dari survival mode
Saya yakin saya bisa sembuh dari autoimun SSC ini beserta semua komplikasinya jika saya berhasil keluar dari survival mode ini.
6. Balas Dendam
Ini yang membuat saya masih bertahan hidup sampai sekarang, keinginan yang kuat untuk membalas perlakuan mereka semua yang telah membuat hidup saya hancur seperti sekarang ini. Saya hanya ingin melihat mereka menderita seumur hidup mereka melebihi penderitaan yang saat ini saya jalani.
Setelah berhasil keluar dari sini
Saya akan selebrasi dengan cara:1. Nonton After the curfew
2. Makan Nasi kuning + Bebek Goreng + Perkedel Bondon dengan Lalap kemanggi & Sambel Oncom